Kondisi Masyarakat Yang Kesal Dengan Harga Pangan Mahal Terutama Beras, Bumbu Dapur, Minyak Sayur dan Bahan Medangan
Mahalnya bahan pangan sangat terasa sekali pada masyarakat, khususnya masyarakat biasa atau desil 1 dan 2. Hal ini menyebabkan orang mau belanja harus mahan makanan apa yang bisa di marger dengan kwalitas tidak jauh berbeda dengan kalau pembelian lengkap, namun tidak mengurangi standar rasa maupun gizi yang dikandungnya.
Harga beras kwalitas rendah saja seperti golongan C4 dalam satu kandinya semassa 25 Kg, hargnya mendekati Rp. 500 000,-. Atau per kilonya hampir mendekati Rp. 20 000 an.
Bila satu keluarga kebutuhan beras se hari 1,3 kg. maka untuk membeli beras semassa ini butuh anggaran Rp. 26 000,- Harga sayuran sekali masak itu berkisar Rp. 15 000,-. sedangkan bumbu dapur dan minyak goreng sekali masak butuh anggaran Rp. 13 000,-. Kalau harga gas melon setabung Rp. 20 000,- selama 6 hari. Berarti dalam sehari butuh anggaran untuk gas sebesar Rp. 3 500,-. Dengan demikian biaya masak sendiri tiap hari perlu anggaran sebesar Rp. 26 000 (beras) + Rp. 15 000 (sayuran) + Rp. 13 000,-(bumbu & minyak sayur) + Rp. 3 500 senilai Rp. 57 500,-
Ini belum membuat kopi ataupun teh. Ya sama medangan perhari butuh duit Rp. 60 000,-. Duit sebesar ini belum ada ayam ataupun ikan sebagai protein hewaninya, Bila satu keluarga minimal butuh ayam atau ikan 0,5 Kg, yang harga semurah murahnya Rp. 15 000,. Untuk kebutuhan beli ditergen perhari ya ambil sekitar Rp 5000,-. Sehingga saat ini total kebutuhan pokok tiap keluarga tiap hari dengan gizi standar butuh uang belanja Rp. 80 000,-
Kalau kita membeli makanan siap saji, sekali makan tanpa minuman sebesar Rp. 20 000. Jika kita makan tiga kali makan dalam sehari butuh anggaran makan per orang Rp. 60 000. Jika satu keluarga lima (5) orang, maka untuk makan sehari 5 x Rp. 60 000 = Rp. 300 000. Jika nyuci sediri beli ditergen Rp 5 000, maka satu keluarga butuh duit sehari Rp. 305 000,-
Untuk yang keluarga pertama keluarga yang mandiri sehari butuh anggaran Rp. 80 000 yang dalam satu bulan butuh duit 30 hari x Rp. 80 000 = Rp. 2 400 000,- . ( lima orang)
Untuk keluarga ke dua yang makanannya beli namun nyuci sendiri butuh duit dalam sebulan sebesar 30 hari x Rp. 305 000,- sejumlah Rp. 9 150 000, - (lima orang karena punya 2 anak).
Bila anggaran wifi dalam satu bulan Rp. 300 000,- dan listrik yang standar 900 kwh 275 000, maka anggaran komunikasi dan energi Rp. 575 000.
Sehingga untuk kondisi standar normal kebutuhan dasar untuk keluarga mandiri butuh anggaran sebulan Rp. 2 400 000 + Rp. 575 000 sejumlah Rp. 2 975 000. Untuk keluarga semi mandiri makanan beli butuh anggaran Rp. 9 150 000 + Rp. 575 000 sebesar Rp. 9 725 000,- .
Anggaran sebesar ini belum menyerap uang pendidikan, yang untuk pendidikan dasar dan menengah butuh uang katakan Rp. 400 000 dan uang saku Rp. 300 000 dalam sebulan. Kalau anaknya dua orang maka anggaran pendidikan dasar dan menengah Rp. 1 400 000.
Sehingga untuk keluarga mandiri membutuhkan uang sebesar Rp. 4 375 000. Sedangkan untuk keluarga yang suka makan membeli butuh anggaran sebulan sebesar Rp. 11 125 000,-
Dengan demikian kalau kita mau mengambil nilai layaknya maka pendapatan keluarga untuk standar 2 orang anak ( sesuai program KB ), maka pendapatan keluarga yang standar adalah Rp. 7 750 000,- Maka kalau ada pendapatan keluarga kurang dari nilai ini ya katagori keluarga MISKIN
Untuk pansiunan yang cuma bapak ibu saja, ya untuk beras cukup 0,5 kg seharga Rp. 10 000 dalam 30 hari hanya butuh uang Rp. 300 000,-. bila masak sendiri tambah Rp 31 500 x 30 hari sebesar Rp. 945 000 sejumlah Rp 1 245 000,- bila Bila tinggal di rumah sendiri tidak ikut anak maka tambahannya Rp. 575 000,-. Sehingga dalam satu bulan pensiunan tanpa anak yang mandiri membutuhkan badget anggaran Rp. 1 820 000,-.
Bila kita dapat pensiunan Rp. 3000 000 masih kategori cukup untuk hidup mandiri. Namun kalau makanan harus beli siap saji maka anggarannya butuh Rp. 7 200 000. Tentuk ini pembengkakan anggaran yang tidak signifikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar