TIDAK BERLEBIHAN DALAM KETAATAN
Assalamu alaikum wr wb
Marilah kita bersyukur
salam dan sholawat (pejuang tauhid, pejuang keimanan, dan pejuang akhlak yang mulia)
Kasus di masyarakat: mohon maaf kalau contoh ini tidak berkenan di para jamaah
1. Ini tugas kamu, disuruh belajar malah mainan hp saja akibatnya jeblok nilainya
anak ditinggal di rumah tanpa kontrol sedang orang tua fokus hanya kerja saja
2. Istri itu manut sama suami ngapain ngatur ngatur. Coba siapa imam di rmh ini
Keluarga yang ingin kaya dengan cara berjudi dan menyuruh istri kerja. Ini dianggapnya jalan paling tepat kalau ingin kaya
mengapa kita hanya suka kaya harta, mengapa tidak banyak yang ingin kaya ilmu, kaya ketrampilan, kaya keimanan, kaya dengan akhlak yang mulia
3. Wahai karyawanku kamu ini bener bener sampah, kalau jadi seler yang mantap dong massa barang segini banyaknya laku beberapa saja
Majikan yang tidak pernah memberi arahan cara berbisnis kerjanya hanya memfonis salah karyawannya tanpa pernah diberi pelatihan dan uji kompetensinya. Endingnya hanya untungnya berapa itu saja
Semua kasus diatas perlu menegamen proses
Coba kita bandingkan dengan masalah ada tiga orang pemuda yang iri pada nabi dapat surganya Allah katanya hanya cukup beribadah saja tidak usah mengerjakan yang lain dan disampaikan kepada para istri nabi
Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”
Meskipun dalam teks hadits umum mereka tidak selalu disebutkan namanya secara spesifik, beberapa ulama mengidentifikasi mereka berdasarkan riwayat pendukung sebagai
1. Ali bin Abi Thalib (ingin terus-menerus shalat malam tanpa tidur). 2. Abdullah bin Amr bin Al-Ash (ingin berpuasa setiap hari tanpa berbuka). 3. Utsman bin Mazh'un (ingin menjauhkan diri dari wanita/tidak menikah agar fokus ibadah).
Mereka ingin bersikap agar disayangi Allah dan mendapat surganya Allah
yâ ahlal-kitâbi lâ taghlû fî dînikum wa lâ taqûlû ‘alallâhi illal-ḫaqq, innamal-masîḫu ‘îsabnu maryama rasûlullâhi wa kalimatuh, alqâhâ ilâ maryama wa rûḫum min-hu fa âminû billâhi wa rusulih, wa lâ taqûlû tsalâtsah, intahû khairal lakum, innamallâhu ilâhuw wâḫid, sub-ḫânahû ay yakûna lahû walad, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, wa kafâ billâhi wakîlâ (QS. An-Nisa: 171).
Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.
QS. An-Nisa: 171 menegaskan larangan bagi Ahli Kitab untuk melampaui batas dalam beragama, terutama dengan menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan/anak Tuhan atau meyakini konsep trinitas. Ayat ini menegaskan Isa adalah utusan Allah, kalimat-Nya, dan roh dari-Nya. Allah Maha Esa dan suci dari memiliki anak.
Dengan demikian sikap kita dalam hidup ini harus meniru rosulullah, sehingga terjadi keseimbangan akhlak. Kapan kita harus ibadah, kapan harus kerja, kapan harus tidur, kapan kita harus bersyahwat dengan pasangan kita (bagi yang memiliki), kapan kita harus memperhatikan lingkungan,kapan kita harus membimbing anak anak / cucu cucu kita. Sehingga semuanya tidak ada yang diterlantarkan semuanya menerima layanan yang seimbang
MENUTUP MAJELIS
سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ أشْهَدُ أنْ لا إِلهَ إِلاَّ أنْتَ أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ
Subhânakallâhumma wa bihamdika asyhadu an-lâilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaik
Wassalmu alaikum wr wb






Meningkatkan fungsi otak
Tapi bukan “cara instan jadi jenius”