Warung makan sepi pembeli dan di rumahpun dapurnya jarang "ngebul"
Sejak dua bulan yang lalu yakni dari bulan November 2021 sampai akhir minggu terakhir di bulan Desember 2021, kaum mak mak ataupun ibu ibu sudah di pusingkan dengan melonjaknya harga minyak goreng. Apakah itu bentuk minyak goreng kemasan maupun bentuk minyak goreng curah semuanya mengalami lonjakkan harga. Mungkin dari para kaum mak mak, sudah menyadari kalau menjelang akhir tahun biasanya harga mulai banyak yang naik. Karena momen akhir tahun itu, spescial, Ada yang merayakan momen keagamaan, adanya liburan akhir tahun dimana banyak komunitas dimasyarakat yang mudik untuk berkumpul dengan keluarga, dan adapula kelompok masyarakat menggelar wisata ke tempat lain. Ada pula di momen malam pergantian tahun nanti banyak kelompok kelompok masyarakat yang akan menggelar iven "lesehan" dengan makan bersama, bentuknya banyak ada yang menggelar acara "bakaran" yakni membakar ikan, ayam, bebek dan yang sejenisnya, adapula yang mengelar resepsi dengan pertunjukkan panggung hiburan dan ada pula yang "tirakatan" yakni tidak tidur semalaman dengan meggelar permainan sampai pagi dengan diiringi makan makan bersama.
Semua iven tersebut sudah disadari oleh kaum mak mak akan terjadi lonjakan harga karena permintaan akan barang sembako meningkat. Jadi peningkatan harga itu tidak hanya di minyak goreng, namun disemua barang sembako. Bahkan info harga cabe yang melangit sudah lebih dari sekali dalam triwulan terakhir di tahun 2021 ini.
Bahkan dari info UMP (Upah Minimum Propinsi) untuk wilayah Jawa Tengah saja untuk tahun 2022 nanti dari Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah, UMP hanya naik 0,78 %. atau naik Rp. 13.956,-. Sedangkan kenaikan harga yang muncul di pasaran ini, yang tidak hanya sembako melebihi kenaikkan UMP tersebut. Nah kalau yang penghasilannya tidak pernah ada kenaikkan atau bahkan yang tidak berpenghasilan sama sekali yang relatif banyak ini, bagaimana ?
Kalau kenikkan ini bersifat temporer tidak masalah, namun sejak memasuki tahun 2021 yang lalu lonjakan harga barang ini tidak menunjukan adanya tanda tanda penurunan yang signifikan, sehingga banyak orang melabeli bandrolnya berubah. Akibatnya beban hidup konsumen menjadi meningkat.
Yang jelas "Daya Beli Masyarakat" menurun bahkan minus. Dan kaum yang paling terdepresi untuk menanggung hidup ini adalah masyarakat miskin. Sehingga untuk warga miskin "nek ora polah ora mamah" artinya kalau hari ini tidak kerja ya hari ini tidak makan, itu lebih mencekam lagi. Sebab misalkan dia kerja seharian itu dengan adanya inflasi ini pendapatan mereka ya "segitu gitu saja". Misalkan orang lain mau membantu, juga kesulitan. Apa mau membantu tiap hari, sedangkan dirinya dan keluarganya juga mengalami hal yang serupa. Terus bagaimana dengan kasus stanting yang juga kategori tidak sedikit ?
Sehingga melalui tulisan ini, penulis memohon kepada otoritas yang berwenang, dapatlah kiranya ikut memberi solusi, pada masalah ini. Sehingga harapan untuk hidup, dapat lebih dapat menyegarkan lagi. Apalagi mereka kaum yang tidak berpenghasilan dan warga miskin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar