Hari Kartini diperingati diseluruh Indonesia pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Termasuk tahun ini 2012 kita kembali memperingati hari kelahiran Kartini. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Beliau adalah putri dari Raden Mas Ario Sosroningrat yang tidak lain adalah Bupati Jepara, yang masih ada nasab dengan Hamengkubuwono ke VI kesultanan Yogyakarta. Ibunda Kartini bernama MA Ngasirah Putri yang lahir dari pasangan Kyai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah. Kyai Haji Madirono adalah salah seorang guru agama di Telukawur Jepara.
Ayah Kartini sebelum menjadi Bupati pekerjaan sebelumnya adalah seorang wedana. Pada saat itu seorang wedanan tidak mungkin dapat menjadi seorang Bupati. Sebab untuk menjadi Bupati syaratnya harus beristrikan putri raja atau bangsawan. Oleh karena itu akhirnya beliau kawin lagi dengan Raden Adjeng Woerjan salah seorang putri dari kerajaan Madura. Ayah dari Raden Adjeng Woerjan yang bernama R.A.A Tjitrowikromo yang suatu ketika sedang menjalankan tugas sebagai Bupati Jepara.
Pada saat R.A.A Tjitrowikromo melepaskan jabatan bupati itu dan digantikan oleh Raden Mas Ario Sosroningrat sebagai Bupati Jepara.
Dengan demikian Kartini bukanlah keturunan penuh bangsawan sebab ibundanya bukan dari golongan kerajaan.
Namun karena ayahanda dari Ibu Kartini saat itu telah menjadi Bupati Jepara, sehingga Kartini dapat dengan leluasa mengenyam pendidikan yang lebih memadai. Namun waktu itu perempuan dewasa yang tergolong anak bangsawan seperti Bupati harus menjalani " Pingitan " artinya tidak boleh bercampur baur dengan laki laki sebelum menjadi pasangan yang syah.
Akhirnya Kartini hanya bisa berbaur dengan sesama perempuan di bawah naungan Bupati. Walaupun demikian beliau masih mendapat kesempatan untuk terus belajar. Kartini termasuk perempuan yang suka membaca dan berpikiran luas pada saat itu. Dan beliau sendiri merasa tertekan kalau harus hidup dalam pingitan. Apalagi sesama perempuan lainnya juga tidak bebas untuk belajar. Beliau sendiri pernah menulis surat kepada Mr. J.H Abendanon bahwa dirinya berkeinginan untuk diperbolehkan belajar di luar negeri yaitu Belanda. Dan pada waktu itu juga mendapat balasan yang positip dari Mr. J.H Abendanon aliyas diberi ijin dengan mendapatkan beasiswa belajar di Belanda.
Namun keinginan yang begitu menggebu gebu dari Kartini untuk belajar di luar negeri yaitu Belanda pada akhirnya juga kandas, karena ayahanda Kartini memaksa Kartini untuk segera kawin yang waktu itu usia 24 tahun dengan seorang lelaki pilihan orang tua yang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhinigrat seorang Bupati Rembang Yang sudah beristri 3 orang.
Meskipun sudah menjadi istri ke 4 dari Bupati Rembang waktu itu. Kartini masih boleh untuk terus belajar untuk mengajari perempuan perempuan lainnya. Akhirnya Kartini membuka sekolah untuk perempuan di kota Rembang atas ijin suami.
Namun sayangnya beliau tidak berumur panjang pada usia ke 25 tahun sejak melahirkan anak pertamanya yang bernama Raden Mas Soesalit beliau wafat pada tanggal 17 September 1904 dan dimakamkan di Desa Bulu kecamatan Bulu Rembang.
Semangat Kartini sungguh luar biasa, namun beliau kini telah tiada tinggal semangat dan pemikiran beliau saja yang saat ini masih hidup.
Semangat Kartini untuk belajar demikian keras termasuk berkeinginan belajar di luar negeri. Semangat ini merupakan titik balik sebagai usaha wanita didalam memperjuangkan menyamakan kesetaraan gender. Meskipun demikian Kartini tetap patuh terhadap suami dan tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita, yaitu melayani suami dan mengasuh anak anak. Hal inilah yang perlu menjadi pegangan para wanita Indonesia khususnya atau kaum hawa umumnya untuk terus belajar seperti Kartini dan tetap patuh atau taat kepada peraturan keluarga dan tidak meninggalkan kordratnya sebagai wanita.
Majulah terus wanita Indonesia karena jumlahmu juga sudah melebihi kaum lelaki. Buktikan kalau wanita MEMANG BISAAAA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar