PNPM yang memasuki Kelurahan Tegalreja Kecamatan Cilacap Selatan, selama kurun waktu 5 tahun yang lalu LKM nya hanya baru dapat mengubah kondisi masyarakat yang tadinya tak berdaya menjadi berdaya saja. Sehingga pekerjaan selama ini masih berkutat pada masalah urusan kelembagaan saja. Walaupun demikian hal ini merupakan sebuah pembelajaran yang sangat luar biasa, yang terjadi pada tanggal 7 Januari yang lalu dimana LKM " Usaha Bersama " mengalami perubahan besar besaran dalam memilih orang orang terbaiknya yang duduk dalam lembaga tesebut . Sehingga kita belum dapat mencetak masyarakat yang mandiri apalagi madani. Sebab ciri utama masyarakat yang mandiri saja masyarakat dan KSM nya dapat bermitra dengan pihak swasta atau pemerintah
Hal tersebut diungkapkan Bung Hutri dalam acara RWT atau rembug warga tahunan di tahun 2013, di gedung Bappeda Kabupaten Cilacap pada hari Minggu, tanggal 27 Januari 2013.
Oleh karena itu lanjut Bung Hutri, masalah informasi tentang PNPM dan juga program kerjanya masih belum dapat diketahui secara luas oleh masyarakat. Bahkan dari pegurus KSM sendiri masih banyak yang belum mengetahui secara gamblang apa itu PNPM dan apa tugas tugasnya.
Bahkan Bung Hutri menilai masih banyak KSM di tingkat RT atau RW yang masih perlu untuk ditingkatkan pemahaman tentang PNPM ini, lebih lanjut.
Adapun penyebab utama, mengapa hal ini terjadi menurut keterangan Bung Hutri, adalah masyarakat Tegalreja atau Kelurahan Tegalreja terkena masalah kemiskinan yang sudah mengakar atau akar kemiskinan yang terlalu kuat. Apa itu akar kemiskinan yang dimaksud ? Penjelasan Bung Hutri mengatakan akar kemiskinan adalah kondisi melemahnya terhadap amanah dan kejujuran serta lainnya. Hal ini berakibat tidak munculnya potensi masyarakat, masyarakat yang tidak responsif ( masa bodoh ), serta sulitnya menggali sebuah gagasan dari masyarat dalam rembung bersama.
Jadi di Kelurahan Tegalreja ini bukan berarti kekurangan modal atau banyaknya jalan jalan yang rusak, sehingga program PNPM ini stagnan namun terjadi karena faktor akar kemiskinan. Kasus ini juga banyak muncul di tempat lain sehingga Pemerintah melalui Badan Cipta Karya, membuat program " Pemberdayaan Masyarakat " khususnya bukan masyarat pedesaan sehingga muncul adanya PNPM MP.
Sebenarnya program PNPM ini program khusus yaitu mengabadikan siklus siklus yang ada di masyarakat. Seperti :
1. Penggalian gagasan ( dalam hal ini masyarkat ingin apa )
2. Perencanaan ( misalnya pembuatan kepanitiaan )
3. Pelaksanaan dan
4. Evaluasi ( monitoring ).
Untuk menuju hal tersebut maka perlu diawali dengan tahap persiapan, yang meliputi :
1. Sosialisasi program.
2. Refleksi ( dalam hal ini refleksi kemiskinan )
3. Pemetaan ( swadaya ) dan
4. Pengorganisasian masyarakat
PNPM adalah sebuah program yang membutuhkan adanya Gerakan. Bukan program perorangan namun program kelompok atau bersama. Melemahnya kondisi ini terjadi pada kegiatan PNPM urusan ekonomi, dimana dana pinjaman bergulir ini macet dalam proses pengembalian. Sehingga menurut Bung Hutri kita ditahun 2013 sudah tidak dapat lagi mengakses permodalan PNPM urusan ekonomi ini. Sebab faktor pengembalian kita sangat kecil bahkan lebih kecil dari 30 %. Padahal urusan permodalan ini merupakan aset kita aset kelurahan Tegalreja. " Rasanya kok ya eman eman ", kalau hal ini dibiarkan. Kita perlu menugasi penagih (RR kita baru 77 seharusnya sudah 90) agar lebih giat lagi bekerja. Dan perlu dibantu dari pihak KSM, ketua RT dan Ketua RW. Kalau kita menginginkan aset tersebut tidak hilang dari kegiatan kita.
Menurut Bung Hutri pada tempat tempat lain yang sukses dalam urusan permodalan bergulir ini, mereka dapat membuat Posyandu dan juga MCK umum.
Oleh karena itu lanjut Bung Hutri, masalah informasi tentang PNPM dan juga program kerjanya masih belum dapat diketahui secara luas oleh masyarakat. Bahkan dari pegurus KSM sendiri masih banyak yang belum mengetahui secara gamblang apa itu PNPM dan apa tugas tugasnya.
Bahkan Bung Hutri menilai masih banyak KSM di tingkat RT atau RW yang masih perlu untuk ditingkatkan pemahaman tentang PNPM ini, lebih lanjut.
Adapun penyebab utama, mengapa hal ini terjadi menurut keterangan Bung Hutri, adalah masyarakat Tegalreja atau Kelurahan Tegalreja terkena masalah kemiskinan yang sudah mengakar atau akar kemiskinan yang terlalu kuat. Apa itu akar kemiskinan yang dimaksud ? Penjelasan Bung Hutri mengatakan akar kemiskinan adalah kondisi melemahnya terhadap amanah dan kejujuran serta lainnya. Hal ini berakibat tidak munculnya potensi masyarakat, masyarakat yang tidak responsif ( masa bodoh ), serta sulitnya menggali sebuah gagasan dari masyarat dalam rembung bersama.
Jadi di Kelurahan Tegalreja ini bukan berarti kekurangan modal atau banyaknya jalan jalan yang rusak, sehingga program PNPM ini stagnan namun terjadi karena faktor akar kemiskinan. Kasus ini juga banyak muncul di tempat lain sehingga Pemerintah melalui Badan Cipta Karya, membuat program " Pemberdayaan Masyarakat " khususnya bukan masyarat pedesaan sehingga muncul adanya PNPM MP.
Sebenarnya program PNPM ini program khusus yaitu mengabadikan siklus siklus yang ada di masyarakat. Seperti :
1. Penggalian gagasan ( dalam hal ini masyarkat ingin apa )
2. Perencanaan ( misalnya pembuatan kepanitiaan )
3. Pelaksanaan dan
4. Evaluasi ( monitoring ).
Untuk menuju hal tersebut maka perlu diawali dengan tahap persiapan, yang meliputi :
1. Sosialisasi program.
2. Refleksi ( dalam hal ini refleksi kemiskinan )
3. Pemetaan ( swadaya ) dan
4. Pengorganisasian masyarakat
PNPM adalah sebuah program yang membutuhkan adanya Gerakan. Bukan program perorangan namun program kelompok atau bersama. Melemahnya kondisi ini terjadi pada kegiatan PNPM urusan ekonomi, dimana dana pinjaman bergulir ini macet dalam proses pengembalian. Sehingga menurut Bung Hutri kita ditahun 2013 sudah tidak dapat lagi mengakses permodalan PNPM urusan ekonomi ini. Sebab faktor pengembalian kita sangat kecil bahkan lebih kecil dari 30 %. Padahal urusan permodalan ini merupakan aset kita aset kelurahan Tegalreja. " Rasanya kok ya eman eman ", kalau hal ini dibiarkan. Kita perlu menugasi penagih (RR kita baru 77 seharusnya sudah 90) agar lebih giat lagi bekerja. Dan perlu dibantu dari pihak KSM, ketua RT dan Ketua RW. Kalau kita menginginkan aset tersebut tidak hilang dari kegiatan kita.
Menurut Bung Hutri pada tempat tempat lain yang sukses dalam urusan permodalan bergulir ini, mereka dapat membuat Posyandu dan juga MCK umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar